Variabel Tak Terduga

Senyumannya begitu manis, hangat, seperti karamel yang perlahan meleleh. Tak pernah disangka, senyum sederhana itu justru menjadi awal dari banyak hal yang tak terduga sepanjang perjalanan seseorang. 


Nevan. Ia siswa yang tampan, manis, berotot dan anak Olimpiade. Dia cowok yang begitu populer dan banyak sekali yang menyukainya. Tetapi mereka tidak berani mendekat, karena kata mereka yang pernah mendekatinya, mereka selalu dibully oleh fansnya. 


Di antara semua itu, ada satu orang yang hanya bisa memperhatikan dari jauh.


Namanya Ayudia.


Tapi kini kita berdua dekat karena akan mewakili sekolah pada ajang Olimpiade tingkat nasional. Meski sama-sama mewakili sekolah dalam Olimpiade, kedekatan itu tidak pernah benar-benar terasa. Bukan karena tak ingin, tetapi karena keadaan yang tak pernah berpihak padanya. 


Suatu pagi, langkahnya terhenti di lorong sekolah yang panjang dan remang remang. 


Tatapan siswi kepada Nevan seperti melihat idola kesukaan mereka datang kesekolah dan akan memberikan tanda tangan. 


Beberapa siswi yang menyukai Nevan mulai berbisik saat melihat Ayudia berjalan tak jauh dari Nevan. Tatapan mereka berubah, bukan lagi menyukai dan penasaran, melainkan penuh penilaian. Salah satu dari mereka bahkan dengan sengaja menyenggol bahunya, seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak pantas berada di dekat sosok seperti Nevan.


Dan Ayudia hanya diam saja, ia seperti sudah terlalu sering menghadapi hal semacam itu. 


Namun, entah kenapa hari itu berbeda. 


Di ruang bimbingan, untuk pertama kalinya, Nevan yang membuka percakapan. Biasanya yang membuka percakapan adalah guru pembimbing. 


Ia mengeluhkan soal latihan yang diberikan pembimbing kepada mereka, sementara Ayudia menjawab dengan cuek bahwa semua soal latihan telah ia selesai kerjakan. Nevan sempat terdiam, lalu tersenyum kecil, sebuah senyum yang tanpa disadari membuat suasana menjadi lebih hangat. Namun Ayudia tak memberikan reaksi berlebih. 


"Yudia, lu udah ngerjain semua latihan soal dari Mr. Kriting?” tanyanya sambil memutar bolpoin di tangan kanannya. 


Ayudia yang sedang membuka catatan hanya melirik sekilas dan cuek. “Udah.”


Nevan mengangkat alisnya, sedikit tidak percaya. “Serius? Itu lima puluh soal loh, dan dikasih waktu cuma dua hari.”


“Lumayan kok waktunya,” jawab Ayudia singkat, nada suaranya terdengar datar. “Kamu aja yang kebanyakan santai dan malas-malasan.”


Nevan tertawa kecil. “Gila sih lu, canggih bener udah kayak robot aja.”

Ayudia menutup bukunya perlahan. “Daripada fokus ke hal lain, mending sekarang fokus belajar.”


“Hal lain?” Nevan menaikkan alisnya, tersenyum tipis. “Maksud lu cewek-cewek itu?”


Ayudia tidak menjawab. Ia hanya kembali menunduk, seolah pembicaraan itu tidak berarti dan hanya buang buang tenaga saja.


Nevan memperhatikan sejenak, lalu bersandar di kursinya. “Yaudah… tapi ini serius, nanti lu pulang bareng gue aja, mau? Gue sekalian mau nanya-nanya soal.”


Ayudia langsung menggeleng. “Nggak.”


“Kenapa?” tanya Nevan, sedikit heran.


“Aku nggak mau jadi bahan omongan cewek-cewek sekolahan,” jawabnya, tanpa menatap.


Nevan terdiam sesaat, senyumnya perlahan memudar. “Asli kenapa emang? Gara-gara mereka, memangnya mereka ngomongin apa tentang lu ama gua?”


Ayudia tidak menjawab. Keheningan yang terjadi itu sudah cukup menjadi jawaban singkat.


“Yaudah,” ucap Nevan akhirnya, mencoba terdengar santai meski dengan nada kecewa. “Gue gak maksa.”


Setelah selesai bimbingan Ayudia memang terbiasa menunggu jemputan, Ayudia biasa menunggu di pos satpam, tapi kali ini entah kenapa aku kepikiran untuk menunggu di warung dekat gerbang sekolah.


Sambil memainkan gawainya, ia membuka bekal yang tadi dibelinya di kantin. Suasana sore terasa tenang, hingga langkah seseorang tiba-tiba menghampirinya.


Ia datang sambil membawa dua helm. Tanpa banyak bicara, ia langsung memasangkan helm itu ke kepala Ayudia.


Ayudia pun terkejut. “Kamu ngapain sih?” ucapnya kesal, sambil mencoba melepaskan helm itu.


“Kalau makan jangan sambil main HP," jawab Nevan santai, seolah itu hal biasa.


Ayudia menghela nafas panjang, menahan kesal. “Lepasin. Aku gak mau.”


Nevan menatapnya sebentar, lalu berkata, “Pulang bareng gue aja. Udah sore, daripada nunggu jemputan, lama.”


“Udah aku bilang, aku gak mau,” jawab Ayudia tegas. “Tolong jangan deket-deket aku, detik ini, hari ini, besok dan seterusnya.”


Ada jeda singkat. Nevan akhirnya mengangguk pelan.

“Yaudah,” ucapnya singkat, lalu mengambil kembali helmnya.


Namun sebelum pergi, Ayudia sempat berkata dengan nada yang lebih dingin dari biasanya, seolah sengaja menjaga jarak. Jarak yang justru terasa terlalu jauh.


Di perjalanan pulang,pikirannya begitu tak tenang. Kata-kata yang diucapkan tadi terus terulang di kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa… mungkin ia terlalu keras dalam berbicara.


Malam itu, bahkan saat mencoba belajar, bayangan Nevan tak kunjung hilang. Ia mencoba meminta maaf lewat pesan namun tidak jadi. 


Keesokan paginya, seperti biasa, Ayudia berjalan memasuki gerbang sekolah. Namun belum sempat ia melangkah jauh hanya baru beberapa langkah, seseorang menepuk pundaknya.

Nevan lagi.

Ayudia langsung menunjukkan ekspresi kesal. “Udah aku bilang, jangan deket sama aku.”

Nevan hanya tersenyum tipis. “Santai aja, gue cuma mau jalan bareng.”


“Gak usah,” jawab Ayudia cepat.


Namun kali ini, Nevan tidak mundur. Ia justru berjalan di sampingnya, seolah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar.


“Biar aja mereka lihat,” katanya pelan.


Ayudia mengangkat alisnya. “Lihat apa?”


Nevan berhenti sejenak, lalu menatapnya langsung.


“Kalau gue suka sama lu.”


Ayudia terdiam mematung, tanpa berbicara sepatah katapun, menghela napas panjang, Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia berusaha tetap terlihat biasa saja.


Nevan tersenyum kecil. “Lu tuh gak sadar ya… wajah lu cantik. Tapi yang paling bahaya itu senyum lu.”

Ayudia menatapnya bingung.


“Kayak karamel,” lanjut Nevan. “Manis… bikin orang susah buat gak suka sama lu.”

Untuk pertama kalinya, Ayudia kehabisan kata.


Suasana di sekitarnya seolah meredup. Semua ejekan, semua bisikan yang selama ini sering dilontarkan tiba-tiba terasa jauh.

Yang tersisa hanya satu hal: perasaan yang selama ini ia coba hindari.

Ia menarik nafas pelan.


“Kalau aku bilang… aku gak bakal nolak gimana?” ucapnya dengan hati-hati.


Wajah Nevan langsung berubah. Bukan lagi santai seperti biasanya, melainkan bahagia dengan cara yang sederhana.


Sejak saat itu, semuanya berubah drastis, seratus delapan puluh derajat. 

Nevan bukan lagi sosok yang dilihat dari jauh. Ia benar-benar ada di samping Ayudia. Saat ejekan datang, Nevan tak segan untuk berdiri di depannya dan membela, bukan berarti melawan dunia.

Tapi untuk memastikan, Ayudia tidak menghadapinya sendirian.


Dan untuk pertama kalinya, Ayudia tidak lagi merasa harus menjauh.

Karena kini ia tahu, tidak semua kedekatan harus dihindari.

Beberapa… memang layak untuk diperjuangkan dan dijalankan.


Komentar