Kemungkinannya Besar
Di balik pintu rumah yang berbentuk persegi panjang dengan tembok bercat warna hitam, taman depan yang begitu sejuk dan asri. Dan tata letak barang di dalam rumah yang tersusun rapi dan wewangian yang begitu semerbak.
Rumah itu tak pernah sepi, selalu ramai dengan suara. Televisi yang selalu menyala, langkah kaki yang selalu ke sana kemari begitu terdengar menghentakkan lantai dengan kuat, dan pintu kamar yang sesekali terbuka dan tertutup kembali.
Tapi entah kenapa, semuanya terasa… begitu jauh.
Aku dan Ayah tinggal di rumah yang sama, meski Ibu sekaligus istri Ayahku itu telah meninggal dunia.
Namun setelah kematian ibu, entah kenapa, kami seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi tempat tinggal dalam satu atap.
Dulu tak pernah seperti ini.
Ayah dulu sering mengajakku bersepeda setiap Minggu pagi. Ia juga yang pertama kali mengajariku mengikat tali sepatu, meski hasilnya sering berantakan, menonton kartun bersama, menceritakan kisah dongeng favorit ku dengan judul “Si kecil dengan sepatu super” sebelum tidur dan kadang mengajarkan matematika meskipun nilainya selalu warna merah.
Ternyata, kami berdua pernah sedekat itu.
Tapi itu dulu
Sejak Ibu pergi, semuanya berubah.
Rumahnya tetap sama. Orangnya tetap sama.
Namun suasananya… tidak lagi sama.
Ayah entah kenapa menjadi lebih pendiam. Dan aku, entah sejak kapan ikut menjauh.
Bukan karena tidak ingin dekat. Tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Kami masih makan di meja yang sama, dengan saling berhadapan.
Namun tanpa percakapan, hanya sedikit percakapan.
“Udah makan?” tanya ayahku dengan datar
“Iya,” jawabku dengan nada datar juga.
Hanya seperti itu, tidak lebih.
* * *
Suatu malam, listrik sempat padam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada suara televisi yang mengisi ruangan. Hanya ada kami berdua dalam keadaan gelap, dalam diam.
Aku duduk di ruang tamu. Dan Ayah duduk tidak jauh dariku.
Beberapa kali aku ingin membuka suara, menanyakan hal sederhana.
Apa saja. Tapi kata-kata itu selalu berhenti di tenggorokan.
Aneh rasanya.
Padahal, kemungkinannya besar untuk sekadar berbicara antara Anak dan Ayah. Namun tetap saja… Aku rasa itu tidak akan terjadi.
“Ayah…” akhirnya, kata itu keluar juga.
Pelan. Ragu.
Ayah menoleh.
“Iya?” Hanya satu kata.
Tapi entah kenapa, terasa berat.
Aku terdiam lagi. Kesempatan itu datang.
Dan hampir saja lewat.
“Ayah… lagi sibuk gak?” Pertanyaan paling sederhana yang bisa kupikirkan.
Ayah menggeleng. “Enggak.”
Hening.
Namun kali ini berbeda. Tidak sepenuhnya kosong.
“Ayah masih ingat gak… kita dulu sering ke taman?” tanyaku, mencoba.
Ayah terdiam sejenak.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya. Kamu selalu jatuh dari sepeda, menangis dan kalau dibujuk pasti mintanya es krim.”
Aku tersenyum kecil. “Ayah juga selalu ketawa.”
“Bukan ketawa,” jawabnya. “Cuma… bingung kenapa kamu gak kapok. Apa karena cerita yang ayah ceritakan?”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana terasa hangat.
Meski hanya sebentar.
Lampu yang padam mendadak, akhirnya menyala kembali
Malam itu, aku menyadari sesuatu.
Selama ini, aku selalu berpikir bahwa memperbaiki hubungan ini akan sulit. Bahwa jarak yang sudah terbentuk terlalu jauh untuk didekati kembali.
Padahal… kemungkinannya besar.
Sangat amat besar, bahkan.
Hanya saja, tidak pernah benar-benar dicoba.
* * *
Keesokan harinya, saat aku hendak berangkat, dan hendak berdiri setelah memasang sepatu aku melihat ayah yang sedang duduk menyirami bunga yang ditanam Ibuku.
Aku menoleh ke arah ayah dan saatnya aku berbicara dengannya
“Yah, nanti sore Ayah sibuk gak? Mau jalan sebentar di taman alun alun gak?”
Ayah sedikit terkejut atas pertanyaanku
Namun kali ini, Ayah tidak diam terlalu lama seperti biasanya
“Mau ke mana emangnya? mau jajan?“
Aku mengangkat bahu kecil dan tersenyum lebar.
Lalu, untuk pertama kalinya, tak perlu menunggu lama
Ayah tersenyum sembari berkata “Yaudah, jam 3 sore ya? bagaimana? “
“Iya Ayah, jam 3 sore, janji ya” Aku mengatakannya dengan senyum berbunga-bunga
* * *
Jam tiga sore pun datang menyambut, Aku dan Ayah berjalan bersama. Meski dengan berjalan, aku tetap bahagia bersama Ayah, menyusuri alun alun kota yang penuh dengan jajanan yang biasa aku beli saat masih kecil.
“Nak sini, kenapa jalannya berjarak dengan Ayah? Ayo bareng sama Ayah” Ayahku berkata seperti itu sembari menoleh ke arahku yang sedang senyum sendiri.
Aku terkejut dengan ucapan Ayah seperti itu, “E-eh iya Yah, ayo jalan. Jangan cepet dong yah, capek. “
“Ayah teringat saat kamu masih kecil, yang belajar naik sepeda selalu terjatuh, dan kalau mau berhenti menangis harus dibeliin es krim sama ayah dan ibu” Kata ayah, “Andai ibu masih ada ya nak, kayaknya sekarang kita ketawa ketawa.”
“Loh, walaupun ibu sudah gak ada, kita juga sekarang masih bisa ketawa loh Yah. Harus happy, supaya ibu disana juga happy ngeliat kita.” Ucapku yang sambil melihat Ayah yang menahan tangis.
Ternyata bapak penjual es krim masih berjualan es krim. Ayah menyuruhku duduk dibangku dekat taman disana, sementara dia akan membeli es krim untuk aku dan Ayah.
Tidak lama dari itu, ayah datang dengan tersenyum sembari tangan di belakang membawa es krim yang dibelinya.
“Nak, es krim favorit kamu apa? Vanilla? Strawberry atau cokelat? Coba tebak ayah beli rasa apa?” Tanya Ayahku dengan tersenyum
“Hmm, aku sukanya rasa cokelat Yah. Enak banget soalnya” Aku ikut tersenyum
“Tadaaa, es krim favoritmu, rasa cokelat.” Ayah begitu senang dengan jawaban sang putri cantiknya.
Kami duduk bersama di bangku alun alun, dengan memakan es krim favorit yang ayah belikan dan masih ingat favorit anaknya.
“Yah, maaf ya selama ini aku gak pernah ngajak ngobrol ayah semenjak ibu meninggal.” Aku memulai obrolan
“Loh, kenapa minta maaf? justru ayah yang minta maaf. Ayah gak pernah ngajak kamu ngobrol sama jajan kayak gini. Maaf ya nak… Ayah jadi egois gini setelah ibu meninggal.“ Kalimat itu terucap di bibir sang ayah.
Mungkin, tidak semuanya bisa kembali seperti dulu. Tapi setidaknya, sekarang aku tahu jarak itu selalu ada ketika kita tidak berkomunikasi, dan jarak itu bisa berakhir jika kita saling mengungkapkan.
Kadang, hanya butuh satu langkah kecil untuk mendekat kembali.
Karena pada akhirnya…
Kemungkinannya memang selalu ada.

Komentar
Posting Komentar